Tuesday, August 19, 2008

Happy Birthday Debbi

1750549755_8ddc55a75a Di sini, di kota yang berangin ini aku melaju dengan sepeda tuaku. Tengah malam kulewatkan begitu saja tanpa dingin yang membeku. Jalanan lengang, mengingatkanku pada bertahun-tahun lalu ketika bersama kita mengukir tawa di jalanan. Ada kisah yang tercecer di sudut lampu merah, ada yang menyelip di kedai kopi, ada yang terbawa hingga usai di sebuah kamar sempit di utara jogja. Berapa ketukan di kepala ketika pintu terbuka dan kita saling menunggu kabar dari mulut yang terkatup rapat. Kebisuan sering membuat kita belajar membaca satu sama lain. Pada gores luka di dahimu, pada 8 jahitan di kepala. Sebuah cerita di tuturkan di atas jembatan layang, lalu kau membawaku ke solo untuk menikmati luka sekaligus hidup. Tangisanmu seringkali tertutup di bawah selimut atau di balik jendela kamar yang tak pernah kau buka. Tapi aku tau dan menuliskan puisi untuk setiap yang kausimpan. 96 bulan sejak pertama kita saling mengenal, sekitar 384 minggu 2918 hari 70032 jam, sudah berapa banyak tangis dam tawa? Seratus? Seribu? Entah, namun kita nikmati semua itu. Aku lebih lama melihat kita saling tumbuh, lebih dari aku melihat keluargaku sendiri bertumbuh.Kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama satu sama lain daripada bersama saudara kandung kita masing-masing. Jadi, bagaimana aku tidak melihatmu sebagai keluargaku? Bagaimana aku tidak melihatmu sebagai bagian dari kehidupanku?
Kali ini adalah ucapan yang ke-7 kalinya semenjak pertemuan kita.
Selamat ulang tahun debbi, saudariku !
Dari kota yang berangin ini, cerita masih di simpan dan do’a dikirimkan. Tak ada kerang yang indah, tak ada cincin berlian, tak ada boneka, tak ada rayuan…tapi ada persahabatan, untuk kita!
I wish you all the best, and may god bless you with happiness!

                            

Monday, August 18, 2008

Pare dan Komunitas Cangkir Kopi

Pare, 18 Agustus 2008


Tepat sehari setelah penampilan komunitas Cangkir Kopi di acara pagelaran seni SMU 1 pare, Kediri. Achmad Ikhwan Susilo alias Bung Kapit membawakan sebuah musikalisasi puisi berjudul “Kucing” karya Sutardji Calzoum Bahri . Sartika Nasmar, seorang jurnalis yang tengah studi di pare, berkolaborasi dengan komunitas Cangkir Kopi membawakan sebuah lagu karya Wiji Thukul. Saya sendiri, Inna Hudaya, mengedit dan mengaransemen musik untuk puisi sekaligus menjadi manager.


Teater anak sekolah SMU 1 pare tampil berbeda dibanding teater sekolah lainnya yang tampil malam tadi, cukup menarik untuk ukuran anak-anak sekolah yang masih baru mengenal dunia teater. Penampilan mereka cukup membuat saya cemburu, mengingatkan saya pada masa-masa sekolah SMA dulu, selalu menyenangkan dan penuh semangat.


Acara selesai pukul 10 malam. Komunitas Cangkir Kopi ( seharusnya komun itas Termos Kopi karena malam tadi yang di bawa adalah termos berisi kopi panas, bukan cangkir) tidak langsung beranjak pulang dan ikut berjoget bersama anak-anak teater dan panitia yang menutup acara. Kami sempat melakukan meditasi sesaat sebelum akhirnya menyantap nasi bungkus yang di sediakan, sebuah makan malam yang sederhana dan menyenangkan karena kami berbagi nasi bungkus untuk di makan ramai-ramai.


Tika sepertinya masih semangat untuk melewatkan waktu yang tersisa dengan berkumpul lagi dengan anak-anak Cangkir Kopi di Garuda Park, seperti malam-malam sebelumnya yang kami habiskan bersama untuk mengobrol, latihan menyanyi dan menari-nari. Tapi tidak malam ini.


“Saya tak punya tenaga lagi untuk begadang, malam ini saya butuh tempat tidur.”


Akhirnya Kapit membawa kami ke kamar kos Mitha untuk menumpang tidur di sana.


***


Saya dan tika tiba di Pare seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 11 Agustus 2008. Kami menempuh 7 jam perjalanan dari Jogja hanya untuk studi bahasa inggris. Setelah kehabisan kamar di kos yang sebelumnya saya tempati, akhirnya kami menemukan sebuah kos dengan halaman yang luas. Saya, Tika dan Miftah, seorang perempuan asal Nganjuk, menempati sebuah kamar berukuran 3x5m di lantai pertama. Rumah kos ini tepat di depan Daffodils, tempat kursus di mana saya mengambil kelas Speaking, dan tak jauh dari Kresna, tempat kursus di mana saya dan tika mengambil kelas Grammar.


Pendekar Dhaha, begitu saya menyebutnya, adalah sebuah sepeda onthel tua kesayangan saya. Ketika beberapa bulan lalu saya berada di Pare, saya menyewanya dari sebuah persewaan sepeda. Kali ini saya harus kecewa, karena seseorang telah membeli dan membawanya pulang. Akhirnya saya harus menyewa sepeda onthel yang lain, memang lebih baik dari yang sebelumnya, namun tak seistimewa pendekar dhaha, bahkan seminggu setelah mengendarainya saya masih belum memberinya sebuah nama. Tika juga menyewa sepeda onthel dari persewaan sepeda yang sama. Kami tampak lain dari yang lain, sepeda onthel membuat kami tampak unik dan menarik, hal ini terbukti dari perhatian banyak orang yang selalu mengomentari sepeda kami.


Seminggu sudah kami di Pare, namun rasanya jauh lebih lama dari itu. Selain studi, saya juga menikmati waktu bertemu dengan orang-orang baru, banyak pemuda dan pemudi yang datang dari berbagai daerah di jawa ataupun luar jawa, kebanyakan dari mereka adalah pelajar dan mahasiswa. Hal ini menyenangkan karena selain mendapat seorang teman baru juga sekaligus menjadi kesempatan untuk mengembangkan jaringan organisasi Samsara atau sekedar membuka forum diskusi yang berhubungan dengan interest organisasi. Achmad Ikhwan Susilo alias kapit, seorang kawan yang saya kenal ketika pertama kali ke Pare, mempertemukan saya dan tika dengan komunitas cangkir kopi.


Sekilas saya ingin mengingat awal perkenalan saya dan kapit.


Saat itu bulan Mei 2008, saya tiba di Pare untuk studi. Saya mengenal kapit karena ia adalah operator di warnet yang biasa saya datangi. Ia tampak berbeda dari pemuda kebanyakan di desa ini. Saya sempat merasa bosan dengan teman-teman yang jauh lebih muda dan merasa butuh kawan untuk berdiskusi. Dari penampilannya saja saya sudah mengenali perbedaannya, belum lagi karya tulis nya di blog. Saya mulai banyak mengobrol dengannya, berbagi kopi dan tertawa bersama. Semenjak itu kami mulai berkawan.
Beberapa hari terakhir ini, ketika studi kami libur, saya dan tika banyak menghabiskan waktu bersama komunitas Cangkir Kopi. Kapit adalah salah satu pelopor di komunitas ini dan tampaknya sangat berapi-api untuk membuat komunitas ini berbeda dari yang lain, menghasilkan karya yang unik dan segar. Kebanyakan anggotanya adalah anak-anak sekolah, usia yang penuh semangat dan keinginan yang besar. Kapit sepertinya melihat semangat ini di mata anak-anak ini dan ingin bersama-sama menghasilkan sebuah karya. Awalnya kapit ingin menampilkan musikalisasi cerpen karya komunitas, namun karena keterbatasan waktu dan audiens saya harus menolak ide ini dan menawarkan musikalisasi puisi sebagai gantinya. Sisa waktu bisa dipakai untuk permainan musik. Setelah melalui perdebatan yang lumayan panjang, akhirnya mereka oke.


Jum’at malam kami habiskan bersama sebagai awal perkenalan dengan cangkir kopi. Kami terpaksa bergadang sepanjang malam di Garuda park karena kos sudah tutup. Saat-saat yang cukup menyenangkan, karena sebelumnya saya tidak pernah bergadang sepanjang malam di luar rumah kos selama saya di Pare.


Selama 2 malam kami melakukan latihan,cukup melelahkan karena latihan dilakukan bersamaan dengan begadang, menghabiskan banyak energi dan waktu untuk istirahat. Saya sendiri termasuk manager yang cerewet dan perfeksionis, alhasil seringkali tidak puas dengan sikap mereka yang tidak serius. Satu hal yang paling menjengkelkan adalah persepsi bahwa menjadi seniman tak harus memiliki disiplin dan bisa semaunya. Bahwa seniman yang penting nyeni dan bebas tanpa aturan. Bahwa telat adalah salah satu ciri seniman lalu kemudian selalu menjadikan alas an “kami kan seniman” sebagai sebuah pembelaan.
Sekali waktu saya sempat berujar pada kapit bahwa mendorong mereka berkarya adalah suatu hal baik, namun mereka juga butuh disiplin dan mentalitas yang kuat, agar siap menerima kritikan dan kekalahan. Bahwa yang utama bukan hasil, proses menjadi lebih penting. Pada akhirnya hasil yang baik adalah sebuah konsekuensi.


***


Pementasan sudah selesai. Tidak sesempurna yang kami harapkan, namun kami cukup puas. Sekali lagi, proses kami bersama jauh lebih penting. Tak hanya penampilan yang baik, kami juga belajar memaksimalkan kemampuan kami, menemukan sahabat baru dan melewatkan waktu yang menyenangkan penuh tawa, canda dan jogetan yang syur.

Wednesday, August 13, 2008

Untuk Grace Clarissa Susetyo

Terimakasih untuk kedatangannya ke kota yang penuh asap rokok
Setahun berlalu semenjak perkenalan kita yang pertama dan kali ini adalah perkenalan yang sesungguhnya. Aku mengenalmu tak lebih dari sekedar obrolan tentang suka cita, luka, perjuangan dan pencarian tuhan di tanah yang gersang. Di antara mal-mal kota dan kopi-kopi mahal kita menjalin persahabatan. Di bagian dunia lain yang sebenarnya hanya sedikit mendefinisikan diriku. Aku lebih sering merasa kelaparan daripada kekenyangan. Aku terbiasa terbangun dengan tubuh yang pegal karena matras tipis, dan lebih senang berkata semena-mena untuk merilekskan otot-otot lidah yang kaku.
Kamu mungkin sedikit kaget melihatku kali ini. aku juga sedikit kaget melihatmu. Mungkin kamu membenci  asap-asap rokok yang kukenyot tanpa mengenal waktu, atau kaget mendengarku berbicara kasar dan melantur, tertawa ngekek tanpa kharisma. Ya itulah diriku. Aku lebih sering bersikap bodoh dan konyol, sekaligus menikmatinya. Sama kagetnya seperti aku menyadari bahwa ternyata kamu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar mandi daripada di depan TV, dan betapa higienis-nya dirimu itu.
Awalnya aku grogi, karena mungkin kita sudah punya ekspektasi yang terlalu tinggi satu sama lain. Namun kemudian aku menyadari bahwa justru di saat-saat seperti ini kita sebenarnya bisa saling mengenal lebih jauh. Obrolan kita kemarin-kemarin hanya sebagian dari diri kita, dan kini sedikit demi sedikit mulai terungkap sisi lain kita.
Aku sempat merasa jengkel , awalnya kupikir kamu lumayan manja untuk bisa hidup susah. I wonder how if you were in my shoes? Hmm…namun ternyata aku salah, kamu bisa menikmati jalanan malam yang sepi dan dingin, membiarkan debu-debu kotor mengelus kulit halusmu, menghirup bau kereta ekonomi yang apek dan kotor, bersenda gurau di warung angkringan yang murahan.
Terimakasih karena 4 hari kemarin tak hanya menjadi liburan untukmu namun juga menjadi hadiah istimewa untukku. Aku bisa merasakan mandi air hangat, tidur nyenyak di atas ranjang yang empuk, dan  memanjakan perutku dengan menu sarapan beraneka ragam yang menggugah selera. Bagiku itu adalah sebuah kenikmatan. Terimakasih sekali grace.
Aku masih ingat celetukan yoyo jewe selepas kami keluar dari pintu hotel
“sekarang kita kembali ke realita”
Aku tertawa terkekeh, ya..
“Berarti yang tadi bukan realita ya?”
Dan kami hanya tersenyum
Aku dan yoyo jewe sempat duduk beberapa saat di tempat parkir. Berbagi satu batang rokok, satu-satunya harta yang tersisa pagi itu. Beberapa saat sebelum kamu berangkat meninggalkan kota jogja.ya, inilah realita kami, aku dan yoyo jewe juga danto dan sono. Kembali di jalanan dengan daki yang melekat di tubuh, dengan impian di ubun-ubun yang keluar batas orang normal.
Siang itu aku berpisah dengan yoyo jewe, dengan tubuh yang lunglai dan kantong kosong, kembali ke realita kami.

Pinta pada angin malam agar tubuhmu belajar menerima dingin, ketika bintang mengintip di langit solo dan pedal sepeda membuat otot-ototmu belajar tumbuh bergemuruh,di sanalah ada suka cita di antara rambut yang tergerai dan basah oleh keringat. Secangkir teh hangat dan dua orang penghisap racun diam-diam mengukir merah di langit pagi. Maskaramu luntur dan embun tak peduli. Tak ada cerita untuk mama tentang perjalanan ini dan semesta akan menyimpan rahasia ini untukmu. Mata sipit berpendar di jalanan yang lengang, kamar sebelah yang tumbuh dan biji mata segitiga untuk dadamu.

Pemakaman Yuan , Grace Susetyo dan juicy baked vegetables

Sepasang mata telah redup, sebuah hati telah pergi
Dan dua orang, satu lelaki satu perempuan berdiri dengan kepala menunduk
Penghormatan terakhir untuk malaikat kecil kami
Pemakaman yang sederhana, tubuh yang kecil masih halus
Sebuah kain handuk menyimpan kisah itu
Agar kau tak dingin Yuan, anakku
Kusebut saja begitu karena kau sempat kubelai
Dan Yinyang, malaikat kecilku teramat menyukaimu
Yinyang, hampir lupa diri tentang segalanya
Lupa bahwa ia kucing,  kucing tak berlagak seperti anjing
Lupa bahwa tubuh yang mati di simpan di bawah tanah bukan di dalam kotak
Lupa bahwa tubuh kakumu itu artinya kematian bukan tidur yang panjang
Sepasang mata sayu di redup hampir seperempat malam
Dan aku tersadar, aku telah jatuh cinta pada bau dan tubuhmu yang apek
Pada sepasang mata kotor yang menyembunyikan cantikmu
Pada kulit tubuhmu yang lengket dengan tulang
Kulit tubuh yang sempat bersorak karena sarden panasku
Mata cantik yang mengintip di balik kotoran yang lepas
Ah, Selamat jalan Yuan,

10 jam setelah kematian
Dengan dada sedikit menyembul menemani kota merawat perut
Meja entah no berapa, Segelas kopi susu yang sempat tersenggol perempuan muda, jamu kunyit dan telur dadar. Juicy baked vegetables menggelitik, kusisakan sepotong daging panggang dan sosis ayam. Aku sedih memandang bayangan yoyo jewe, danto dan saudaraku yang lain. Kunyalakan sebatang rokok sebagai sebuah hadiah atas malam panjang tanpa racun nikotin dan ranjang yang keras
Hey, aku tengah berlibur di kotaku sendiri
Pagi ke tiga terbangun di atas tempat tidur yang hangat dan nyaman. Menyantap sarapan tanpa perlu pusing membuka dompet

Aku berlibur
Tanpa matras tipis dan bau bantal
Tanpa beban menyapu dan mengepel lantai
Sesekali terbebas racun nikotin yang membuatku megap-megap tak karuan
Syukurku atas semua kekurangan yang karenanya aku menikmati segala kelebihan
Syukurku atas matras tipis yang karenanya aku aku menikmati ranjang nyaman

Terimakasih untuk gadis muda bermata sipit berpendar, grace susetyo
Untuk sebuah kenyamanan yang aku hampir lupa rasanya seperti apa
Untuk roti dan dan selai nenas kesukaanku
Dan mandi air hangat yang mengingatkanku pada rumah



Saturday, August 02, 2008

Junk List

It’s been so long since the last time I post an entry to the blog. I feel screwed up lately. Too many things in da head or maybe it just empty. I don’t even feel like I wanna write something nice. This is the junk list of my mind, need to let it go so I can feel better and relax.

  • I don’t like the idea about getting cold, my nose is such sensitive and wet. Cannot going anywhere, just sleep-eat-take a medicine-sleep-eat-take a medicine that’s goin over and over, That’s suck ! I prefer to have a fresh and powerfull body so I can do many things.
  •  I had a phoned this morning from an old friend, he comes with the idea that I’m now an artist! It always happen, the conversation with an old friend comes along with idea about being artist which is rellative to my missing all this time. Hate it. Kampus extravaganza is an accident. I’m fully ignorant about the idea. There’s no rellative. I don’t meet anyone for a long time for some other reason, a good ones.
  •  I’m nervous about the idea that grace will spend a few days in jogja, I’m afraid I cannot welcoming her as well. I’m not so sure my place will good enough for her. I’m also worry about arrange things for her so she can have a good time here.
  • I don’t reply to the publisher. I don’t write any lately. I hate my self for this. I blame people who always came to my house and interrupting me, but in fact its all my fault. I need to be more clear in giving sign to others. Cannot hope they understand me, I’ll just have to say it loud : “get the fuck up of my room, I need space!”
  • I dunno where to go then. On the 9th of august I’ll check out of the boarding house. i’ve not decide yet where to go, will I just stay here in jogja, move to another house or I’ll be back to Kediri and continued the study? I dunno. A bit frustrating waiting the final answer from PUSTRAL, whether they reject or accept me as the employee. That’s the key. I’ll stay in jogja if I got the job.
  • I don’t like the idea about a managing director of samsara, I keep thingking about the responsibility. Could I responsible for it? I’m afraid that I cannot act as well as the others. I think grace or kiki are better in action and performance. I’m a bit too wild as free as I was before, and I’am afraid the idea of wild, free and smoke comes along with the responsibility of the managing director. That position sounds so hard cause its like related to what you see as a role model. I’m not a good role model. Fiuh…i feel a bit low!
  • I think I’m now in a transition mode where things from the past crashing with the mind of now, it’s like bonding me to run next day for the future. When I feel I’m ready to move on with all the plans, then everything left behind comes and pushing me to turn over. Will i? that’s the question!
  • I really had a fight with my body machine, my hormones goes as well as the sexual and reproductive function,  it stick on my mind that I cannot touch my self properly. The ideas about Good and Bad, Wrong and True, are disturbing me all the time. I can put some other guy in my vagina to relaxing my passion, but I cannot. It’s wrong. But also being good is not as easy as I tought, I fight all the time with my brain and my hormones, and it feels so bad. However, making love is always not the same with making sex or just make it all out ! Fuck, my brain is shit! I really don’t know, am I good to my self if just put my self to be a good person while my body machine begging for some pretty sex. Or I’m just too naïve to have an affair in aim to pretty sex?i dunno!

 

Well. I think I just need one thing….a meditation! Yeah, meditation !

 

 

What time is it ?


I'm Listening To


  • Image Hosted by ImageShack.us

Blog Reader


Please to Note

Blog Widgets


  • Directory of Personal Blogs

  • blog search directory

  • Blogarama - The Blog Directory

  • Register for free widgets at www.blogskinny.com and increase your reader traffic
Powered by Friendster Blogs
Member since 03/2005